Minggu, 30 Januari 2011

'Rendah hati'

Rendah hati adalah salah satu
dari konsep-konsep inti yang
sering diingatkan kepada kita
secara berulang-ulang.
Rendah hati adalah tanda
iman sedangkan kesombongan
adalah tanda kafir
Jika kerendahhatian dianggap
identik dengan iman dan
kesombongan dianggap
identik dengan kafir, itu
karena iman membimbing
manusia kepada pemahaman
dan kebijaksanaan, sementara
kafir menghalangi seseorang
dari memperoleh kebaikan.
Dengan membangun
kesadaran akan Allah melalui
kearifan, seseorang yang
memiliki iman dalam hatinya
tidak akan pernah berani
menyombongkan diri. Dia
menerima dengan rela
bahwasanya Allah berkuasa
atas segala sesuatu,
sedangkan dia sebagai
manusia hanyalah seorang
hamba yang diberkahi dengan
banyak kenikmatan. Orang
yang mendapat hidayah
melihat kekuasaan Allah
dalam segala hal dan
menyadari kelemahan dirinya
sebagai manusia yang merasa
lapar, mudah mendapat sakit
dan menderita rasa sakit. Dia
tidak dapat mencegah dirinya
dari bertambah tua. Dia tidak
menciptakan dirinya sendiri
dan juga tidak dapat
menghindari mati. Dengan
tubuh yang cenderung kepada
kelemahan, dia ditakdirkan
hidup untuk periode waktu
tertentu hingga pada akhirnya
dia mati dan kembali kepada
Penciptanya. Tidak ada satu
alasanpun yang pantas
baginya untuk
menyombongkan diri. Bahkan
seandainyapun dia memiliki
hal yang pantas untuk
disombongkan, dia tetap tidak
layak untuk
menyombongkannya karena
semuanya, baik itu dirinya
maupun yang dia miliki,
adalah pemberian Allah.
Karena itu sudah selayaknya
dia berterima kasih ketimbang
menyombong. Pengakuan
akan keagungan sang
pencipta, dengan sendirinya
akan memimpin orang itu. Dia
benar-benar sadar akan
kelemahannya di mata Allah,
namun dia tidak
menunjukkannya kepada
orang lain. Sebaliknya, dia
dikenal sebagai orang yang
bermartabat, terhormat,
rendah hati, percaya diri, dan
dewasa.
Akibat kurang mampu untuk
memahami Allah, orang kafir
tinggal di dalam cengkeraman
kesombongan dan
kebanggaan mereka yang
percuma. Mereka merasa
memiliki identitas terpisah
yang bebas dari Allah.
Kelebihan pribadi seperti
kecerdasan, kesejahteraan,
penampilan menawan,
kemasyhuran, menjadi hal-hal
yang membuat mereka
memuji diri mereka sendiri.
Mereka tidak mengerti bahwa
semua itu adalah berkah yang
diberikan oleh Allah dan
dapat dicabut sewaktu-waktu.
Aspek lain dari orang kafir
adalah rasa rendah diri yang
berlebihan. Hal ini secara
umum adalah akibat dari
ketidakmampuan untuk
mencapai status atau standar
hidup tertentu. Akibat
ketidaksadaran total akan
konsep-konsep kunci semacam
itu serta konsep kepatuhan
dan keyakinan kepada Allah,
orang kafir dapat mengalami
penderitaan dari berbagai
macam penyakit jiwa yang
berbeda, dan yang terbanyak
adalah rendah diri yang
berlebihan atau terlalu tinggi
hati. Keadaan mereka
didefinisikan di dalam Al-
Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang
yang membantah dalil-dalil
Kami tanpa alasan, yang
mereka peroleh itu tidak lain
karena kesombongan nafsu
ingin mendapat atau
mempertahankan kedudukan
sebagai orang besar, padahal
maksudnya itu tidak akan
tercapai. Oleh karena itu
mohonlah perlindungan
kepada Allah. Sesungguhnya
dia Maha Mendengar lagi
Maha Melihat. Al-Mukmin:56
Seseorang yang berada dalam
keadaan ini menemukan
bahwa segala sesuatunya
tidak berarti kecuali
keberadaannya sendiri. Di
matanya segalanya adalah
alat untuk memuaskan
egonya. Dia terus-menerus
berada dalam usahanya
memuji dirinya sendiri. Dia
menyangkal kegagalan-
kegagalannya dan tidak
pernah mengakui bahwa dia
berasal dari jenis manusia
yang sangat mungkin berbuat
salah. Pada beberapa hal, dia
mengembangkan kebencian
yang hebat terhadap agama.
Hal ini pada dasarnya karena
agama mengajarkan
kebenaran yang unik bahwa
seorang manusia hanyalah
hamba Allah yang mana
keberadaannya secara total
bergantung pada Allah.
Namun karena termakan
habis-habisan oleh harga
dirinya, dia menjadi buta pada
kebenaran yang ditunjukkan
oleh agama. Di dalam
penyangkalan itu, dia
berpegang teguh pada
pendiriannya sendiri tentang
hidup. Al-Qur'an menjelaskan
tentang orang-orang semacam
ini sebagai berikut:
Mereka mengingkarinya
karena zalim dan sombong,
padahal hati mereka meyakini
kebenarannya. Sebab itu
perhatikanlah bagaimana
kesudahannya orang-orang
yang berbuat onar. An-
Naml:14
Karena terbelenggu oleh
kesombongannya, orang
semacam itu hidup demi
memuaskan ego mereka
sendiri. Tidak diragukan lagi
bahwa mereka adalah orang-
orang yang cenderung kepada
berbuat kejahatan. Ayat di
bawah ini memperingatkan
kita tentang tindakan mereka
yang memperdayakan:
Di antara manusia Golongan
manusia ini ialah orang-orang
yang perkataanya berbeda
dengan perbuatannya atau
berbeda dengan apa yang
tersembunyi di dalam hatinya.
Keahliannya dalam memutar-
balikkan sesuatu dan
memutar lidahnya dalam
pembicaraannya hingga dapat
menarik perhatian pendengar
adalah senjata ampuhnya . Dia
dapat mempertahankan
pendiriannya yang salah,
dengan kepintaran memutar
lidah semata. Golongan
manusia yang seperti ini, ada
pada tiap-tiap bangsa dan
masa ada golongan yang
ucapannya menarik
perhatianmu mengenai
kehidupan dunia ini, dan
dipersaksikannya dengan
nama Allah atas kebenaran isi
hatinya, padahal dia adalah
musuh utama. Dan apabila dia
telah pergi meninggalkan
pendengarnya, maka ia
membuat kerusakan di muka
bumi, dirusakkannya sawah
ladang dan ternak Dalam
hubungan itu sebagian
cendekiawan muslim
berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan sawah dan
ladang ialah perempuan. Yang
dimaksud dengan ternak ialah
turunan. Ini berdasarkan ayat
Tuhan. (Lihat 2:223). Maka
dengan ini yang dimaksud
merusak sawah ladang ialah
merusak kehormatan
perempuan dengan
menggaulinya dengan cara
tidak sah, untuk kemudian
melahirkan anak (turunan)
yang tidak sah pula. Dan Allah
tidak menyukai kebinasaan.
Dan bila dikatakan
kepadanya: "Bertakwalah
kepada Allah!", serta merta
timbul keangkuhannya yang
menjurus kepada dosa.
Cukuplah neraka jahanam
sebagai balasannya; dan itulah
tempat tinggal yang seburuk-
buruknya. Al-Baqarah:204-206
Dalam ayat lain, sikap dari
orang-orang yang sombong
dinyatakan sebagai berikut:
Didengarnya beberapa dalil
Allah yang dikemukakan
kepadanya, kemudian dia
tetap menyangkal dengan
sombongnya, seolah-olah dia
tidak mendengarkannya.
Karena itu, gembirakanlah dia
dengan siksaan yang pedih.
Al-Jatsiyah:8
Menyangkal kebenaran hanya
karena kesombongan belaka,
adalah kunci pemahaman
tentang arti kesombongan.
Dengan berbuat sombong
berarti seseorang telah
memilih jalan kesedihan baik
itu di dunia maupun di akhirat
nanti. Itulah sebabnya
kesombongan menjadi musuh
manusia yang paling
membahayakan.
Bahkan kesombongan pulalah
yang menjadi alasan
penolakan Iblis untuk
memberikan penghormatan
kepada Nabi Adam. Hal ini
dijelaskan di dalam Al-Qur-an
dalam sebuah cerita:
Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada malaikat:
"Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari
tanah. Manakala telah
kusempurnakan kejadiannya
dan setelah kutiupkan roh
ciptaanKu; hendaklah kamu
merendahkan diri sujud
kepadanya." Lalu para
malaikat itu sujud semuanya;
kecuali iblis. Dia berlagak
sombong, dan dia termasuk
orang-orang yang kafir. Tuhan
bertanya: "Hai iblis, apakah
gerangan yang
menghalangimu untuk sujud
kepada seseorang yang telah
Kuciptakan dengan
kekuasaanKu? Apakah kamu
berlagak sombong atau
merasa diri tergolong orang
yang lebih tinggi?" Iblis
menjawah: "Aku lebih baik
dari padanya. Engkau
menciptakanku dari api,
sementara dia Engkau
ciptakan dari tanah. Tuhan
berfirman: "Keluarlah kamu
dari Syurga, sesungguhnya
engkau sudah terusir." Dan
kutukanKu tetap atasmu
sampai "Hari Pembalasan."
Sad: 71-78
Pernyataan yang digunakan
iblis di dalam ayat tersebut
sangatlah mengejutkan dan
mencerminkan watak kejinya.
Iblis dikuasai oleh perasaan
tak berdasar yang
membuatnya merasa lebih
penting dari Adam. Iblis
enggan mengakui bahwa
Allah-lah yang sanggup
memuliakan makhluk.
Padahal dengan
diperintahkannya malaikat
untuk bersujud pada Adam,
jelas bahwa Iblis pun kalah
mulia dari Adam karena
sebelum adanya Adam,
malaikat adalah makhluk
yang paling mulia diantara
semua makhluk. Tidak satu
makhlukpun yang berani
melawan perintah Allah
namun Iblis berani dan
sebagai akibatnya dia dikutuk
selama-lamanya.
Iblis memberikan sebuah
contoh jahat bagi orang-orang
yang mengikuti jalannya. Iblis
memberontak kepada Allah
dan mendorong manusia
untuk memberontak juga.
Ayat di bawah ini menjelaskan
tentang bagaimana manusia
disesatkan:
Tuhan berfirman: "Hai iblis
mengapa kamu tidak sujud
menyertai mereka?". Iblis
menjawah: "Aku tidak layak
bersujud kepada makhluk
yang Engkau ciptakan dari
jenis "tanah liat yang dibentuk
itu". Allah berfirman:
"Keluarlah dari sini, karena
kamu terkutuk, sedang
kutukan itu selalu akan
menimpamu sampai hari
kiamat". Berkata iblis: "Ya
Tuhanku, beri tangguhlah aku
sampai hari kebangkitan
manusia". Tuhan menjawah:
"Kamu diberi tangguh, sampai
pada suatu hari, yang
waktunya sudah dikenal
Maksudnya "Hari tiupan
sangkakala yang pertama
yaitu pada saat berakhirnya
hari-hari dunia", dan
permulaannya "hari-hari
akhirat", di mana semua
makhluk yang ada di langit
dan yang ada di bumi
dimatikan. Itulah permulaan
kiamat, ditandai dengan
tiupan sangkakala yang
pertama. Iblis berkata lagi:
"Ya Tuhanku, karena Engkau
telah memutuskan bahwa aku
ini makhluk sesat, maka aku
akan merangsang anak cucu
Adam di muka bumi ini untuk
berbuat maksiat, dan akan
kubawa sesat mereka
semuanya. Al-Hijr:32-39
Iblis menginginkan manusia
untuk tersesat juga. Ini adalah
tipe kepuasan jiwa yang juga
ada pada manusia. Sama
seperti halnya Iblis, seseorang
yang melakukan kejahatan
juga menginginkan orang lain
melakukan kejahatan dan
dihukum juga. Harapan untuk
berbagi kejahatan; dan
dengan demikian juga berbagi
hukuman, telah menjadi
hiburan bagi orang-orang yang
menolak beriman dan
mengingkari keberadaan
Allah karena mereka tahu
bahwa mereka juga dikelilingi
oleh orang-orang yang juga
tersesat. Rasa sentimen
seperti "Semua orang juga
melakukannya" dan "Jika
orang-orang masuk neraka
saya juga", biasanya
diungkapkan. Alasan dari
pernyataan ini adalah logika
seperti yang dijelaskan di
atas. Iblis sadar betul akan
keberadaan dan kekuasaan
Allah namun karena
dikendalikan oleh rasa tinggi
hati yang berlebihan, dia
mengharapkan "perlakuan
istimewa" dan ingin menikmati
hak-hak istimewa pula. Itulah
sebabnya dia menolak ketika
diperintahkan untuk bersujud
kepada Adam. Di dalam Al-
Qur'an digambarkan
bagaimana orang-orang kafir
sebenarnya mengakui
keberadaan Allah, namun
karena "percaya bahwa
mereka memiliki beberapa
keunggulan istimewa",
mereka ingin menikmati hal-
hal tertentu di atas orang lain.
Apalagi banyak orang tersesat
yang menganggap diri mereka
"kekasih Allah". Di dalam Al-
Qur'an sikap mental semacam
ini sering ditegaskan:
Orang-orang Yahudi dan
Nasrani mengatakan: "Kami
adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasihnya-Nya".
Katakanlah! kalau begitu
mengapa Tuhan menyiksamu
karena dosa-dosamu?". Tidak
benar kamu adalah anak-anak
Allah dan kekasih-kekasih
Tuhan, tetapi kamu adalah
manusia biasa di antara
orang-orang yang diciptakan-
Nya. Dia mengampuni siapa
saja yang dikehendaki-Nya
pula. Dan kepunyaan Allah-lah
kekuasaan langit dan bumi
dan apa yang berada di antara
keduanya. Dan kepada-Nya-
lah tempat kembali segala-
galanya. Al-Maidah:18
Perasaan istimewa dan
superior terwujud dalam
berbagai bentuk. Islam
mengajarkan kepada manusia
bahwa manusia berhutang
kehidupannya kepada Allah
dan manusia tidak memiliki
hal apapun kecuali apa yang
telah dianugerahkan Allah
kepadanya. Menolak fakta ini
adalah penyebab utama yang
membuat sebagian besar
manusia tersesat. Apakah
bedanya pernyataan Iblis yang
menyatakan "Aku diciptakan
dari api" dengan peryataan
"Aku anggota keluarga
terpandang", "Aku memiliki
banyak uang", atau "Aku
berpenampilan menawan".
Hal-hal tersebut menjadi
alasan atas kesombongan
mereka. Peristiwa Qarun
adalah contoh nyata seperti
yang diceritakan dalam surat
Al-Qasas:76-83.
Seperti yang kita lihat pada
ayat di atas, Qarun dan orang-
orang sejenisnya percaya
bahwa mereka diberi anugrah
karena sifat-sifat tertentu
yang mereka miliki sehingga
pantas ditolong oleh Allah dan
menganggap orang miskin
sebagai orang yang tidak
pantas mendapat pertolongan
dari Allah. Mereka lupa dan
menyangkal bahwa semua
sifat-sifat tersebut pada
dasarnya adalah anugrah
Allah. Pernyataan Qarun:
"Harta ini diberikan kepadaku
karena ilmu tertentu yang aku
miliki", adalah suatu
kesombongan. Inilah sebabnya
orang merasa penting dan
suka memaksa kepada orang
lain ketika merasa dirinya
berhasil, makmur, dan
berkuasa. Orang-orang yang
demikian adalah orang-orang
yang menganggap diri mereka
kekasih tercinta Allah.
Manusia itu tidak pernah jemu
memohon kebaikan, tetapi
jika dia ditimpa malapetaka,
dia putus-asa dan hilang
harapan. Bila mereka Kami
beri karunia setelah mereka
menderita kesengsaraan,
mereka katakan: "Inilah
hakku, dan aku tidak yakin
bahwa kiamat itu akan terjadi.
Namun bila aku dikembalikan
kepada Tuhanku, tentu
sejumlah kehormatan telah
ada untukku pada sisi-Nya".
Sesungguhnya Kami akan
memberitahukan kepada
orang-orang kafir itu
perbuatan maksiat yang
pernah mereka kerjakan, lalu
kami rasakan siksaan yang
keras kepadanya. Fusshilat:
49-50
Sebaliknya orang-orang
beriman tidak yakin bahwa
dirinya pantas masuk surga.
Itulah sebabnya orang
beriman menyembah Tuhan
mereka dalam "rasa takut
dan harap" (As-Sajadah:16).
Mereka mengharap Allah dan
berdoa "Lindungilah kami dari
api neraka (Al-Baqarah:201)
"Jangan biarkan kami tersesat
setelah kami Engkau beri
petunjuk" (Al-Imran:8)
"Hadirkanlah jiwa kami di
hadapanmu sebagai orang
muslim yang tunduk pada
keinginanmu" (Al-A'raf:126).
Semuanya itu jauh dari sifat
orang kafir yang merasa pasti
bahwa dirinya akan masuk
surga. Kesombongan adalah
penghalang bagi keselamatan
abadi seseorang karena Allah
tidak menyukai orang-orang
yang sombong lagi
menyombongkan diri (Al-
Hadid:22). Ayat-ayat di bawah
ini memperingatkan manusia
secara berulang-kali untuk
menghindari kesombongan:
Dan janganlah engkau
berjalan di muka bumi ini
dengan congkak. Sebab
engkau tidak akan mampu
menembus bumi, dan tidak
pula akan dapat menjulang
setinggi gunung. Al-Isra:37
Dan janganlah engkau
membuang muka penuh
kesombongan terhadap orang
lain dan janganlah engkau
berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sebab Allah tidak
senang terhadap semua orang
yang sombong lagi angkuh.
Luqman:18
Tiada suatu bencanapun yang
menimpa masyarakatmu di
bumi Seperti musim paceklik,
bencana alam, penjajahan,
dan lain-lain atau yang
langsung menimpa dirimu
sendiri, hanya sudah tertulis
dalam kitab Lauhul Mahfuzh
sebelum bencana itu Kami
ciptakan. Hal itu bagi Allah
mudah saja. Demikianlah agar
kamu jangan terlalu berduka
cita terhadap sesuatu yang
sudah luput darimu, dan
jangan terlalu gembira
terhadap sukses yang telah
kamu capai. Allah tidak
menyukai kepada semua
orang yang sangat sombong
dan bersikap angkuh. Al-
Hadid:22-23
Sembahlah Allah dan
janganlah kamu
mempersekutukan-Nya
dengan apapun juga. Dan
berbaktilah kepada kedua
orang ibu-bapak, kaum
kerabat, anak-anak yatim dan
orang miskin, tetangga yang
dekat dan yang jauh Sekalipun
tetangga jauh itu bukan
muslim, teman sejawat Yang
dimaksud adalah teman dalam
perjalanan, orang-orang yang
dalam perjalanan, dan hamba
sahaya yang berada di bawah
kekuasaanmu. Sesungguhnya
Allah tidak menyenangi orang-
orang yang sombong dalam
gerak-geriknya lagi sombong
dalam ucapannya. An-Nisa:36
Di dalam Al-Qur'an, orang
beriman berulang kali
diingatkan untuk rendah hati
dan bersikap lunak. Orang
beriman secara teliti
menghindari kesombongan
karena mereka dapat
memahami ayat bahwasanya
Allah membenci orang-orang
yang sombong lagi
menyombongkan diri. Karena
itu Al-Qur'an mendeklarasikan
bahwa kerendahah-hatian
adalah kebaikan dasar orang
beriman.
Bagi masing-masing umat
yang beragama, telah kami
syari'atkan ibadah kurban
Maksudnya menyembelih
binatang ternak atas dasar
pengarahan: mendekatkan diri
kepada Allah semata. Islam
menyatukan arah semua
aktifitas muslim, baik dalam
tutur-kata maupun amal
perbuatan ke satu arah, yaitu:
Allah. Tidak terkecuali dengan
ibadah kurban ini. Itulah
warna kehidupan muslim dan
itu pulalah akidah muslim.
Maka berdasarkan kesatuan
arah ini pulalah diharamkan
memakan daging binatang
sembelihan yang tujuan
menyembelihnya menyimpang
dari akidah tauhid, dengan
menyebut nama selain Allah.
Misalnya nama berhala anu,
batu keramat ini, tempat
keramat itu, dan sebagainya,
dan sebagainya, supaya
mereka menyebut nama Allah
pada waktu menyembelihnya
dan bersyukur kepadaNya
atas pemberian binatang
ternak itu kepadanya. Maka
Tuhanmu ialah Tuhan Yang
Maha Esa, karena itu berserah
dirilah kepadanya! Dan berilah
berita gembira orang-orang
yang tunduk patuh kepada
Tuhan. Al-Hajj:34
Hamba-hamba Allah yang
Maha Pengasih ialah orang-
orang yang berjalan di muka
bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang yang
bodoh mengucapkan kata
yang tidak sopan kepadanya,
dijawabnya dengan: "Selamat
Sejahtera!" Al-Furqan:63
Itu kampung akhirat yang
pernah kau dengar beritanya
Kami jadikan kenikmatannya
bagi orang-orang yang tak
pernah berlagak sombong dan
merusak di permukaan bumi.
Dan syurga, adalah akibat
yang baik bagi orang yang
takwa. Al-Qasas: 83 Adapun
yang beriman dengan ayat-
ayat Kami, tidak lain hanya
orang-orang yang apabila
diperingatkan dengan ayat itu,
mereka menyungkur sujud
sambil mengucapkan puja dan
puji kepada Tuhannya, lagi
mereka tidak pernah bersikap
sombong. As-Sajadah:15
Ini adalah hal yang agak
penting untuk
dipertimbangkan. Apakah
seseorang itu beriman
ataukah tersesat, bergantung
pada sombong atau rendah
hatikah dia. Akibat-akibat dari
kesombongan dijelaskan
dalam ayat-ayat di bawah ini:
Akan Aku belokkan orang-
orang yang bersikap sombong
di muka bumi tanpa alasan
yang benar dari memahami
tanda-tanda kekuasaanKu
Petunjuk dan keberuntungan
yang dibawa oleh Syari'at
Tuhan. Ciri-ciri orang yang
sombong itu ialah: Jika
mereka melihat ayat-ayat-Ku
mereka tidak
mempercayainya, jika mereka
melihat petunjuk jalan mereka
tidak mau melaluinya, dan
bilamana mereka melihat
jalan kesesatan mereka
langsung menempuhnya. Yang
demikian itu disebabkan
mereka telah mendustakan
ayat-ayat Kami dan selalu
lalai dari padanya. Al-A'raf:
146
Orang-orang yang memerangi
para pendakwah juga
sombong seperti halnya
orang-orang yang memerangi
para rasul. Orang seperti itu
didefinisikan sebagai "para
pemimpin orang kafir" atau
"orang-orang yang bersikap
sombong" yang di dalam Al-
Qur'an disebut sebagai
menolak mematuhi rasul
karena kesombongan dan
arogansi. Mereka menolak
bimbingan orang lain kepada
jalan kebenaran. Atas dasar
sikap suka menentang,
mereka menganggap tak ada
halangan. Kesombongan para
pemimpin orang kafir ini
sering disebut di dalam Al-
Qur'an:
Pemuka-pemuka kaumnya
yang sombong, mengatakan
kepada orang-orang yang
dianggap lemah yang telah
beriman diantara mereka,
katanya: "Tahukah kalian
bahwa Shalih diutus menjadi
Rasul oleh Tuhannya?"
Mereka menjawah:
"Sesungguhnya kami ini
beriman kepada wahyu yang
diturunkan kepada Shalih di
mana ia disuruh
menyampaikannya". Orang-
orang yang sombong itu
berkata lagi: "Sesungguhnya
kami tidak percaya kepada
apa yang kamu imani itu".
Orang yang terkemuka dari
kaum Syu'aib itu berkata: "Hai
Syu'aib kami akan mengusir
kamu dan pengikut-
pengikutmu yang beriman itu
dari negeri kami ini, atau
kamu bersedia menganut
kembali agama kami. Syu'aib
menjawab: "Apakah akan
kamu paksa juga, sekalipun
kami tidak sudi?" Al-A'raf:
75-76; 88
Orang sombong menetapkan
standar tertinggi atas status
sosial, kemakmuran, dan
kemasyhuran. Utusan
manapun yang tidak dapat
memenuhi standar tersebut,
akan mereka anggap sebagai
orang yang tidak mampu
untuk memimpin manusia
kepada jalan kebenaran. Sikap
bawaan yang paling lazim dari
orang kafir adalah
kecenderungan mereka untuk
memberontak melawan para
utusan terpilih Allah.
Dalam Al-Qur'an,
pemberontakan Bani Israil
melawan Thalut, seorang
pemimpin yang diutus kepada
mereka, diceritakan sebagai
berikut:
Nabi mereka berkata lagi
kepada mereka.
"Sesungguhnya Allah telah
mengangkat Thalut menjadi
rajamu". Mereka menjawab:
"Mana mungkin Thalut akan
dapat merajai kami, padahal
kami lebih berhak
mengendalikan pemerintahan
daripadanya, lagi pula ia tidak
mempunyai kekayaan yang
cukup banyak". Nabi mereka
menjawab: "Sungguh, Allah
yang telah memilihnya
menjadi rajamu, dan akan
menganugrahinya dengan ilmu
yang luas dan keperkasaan"
Mereka berpendapat bahwa
yang patut menjadi raja ialah
mereka dari turunan raja-raja
dan bangsawan serta kaya-
raya. Padahal syarat yang
diperlukan untuk seorang raja
ialah: memiliki kepribadian
yang menonjol, mempunyai
ilmu pengetahuan yang luas di
segala bidang. Dan Allah
menganugrahi kerajaan
kepada orang yang disukai-
Nya, dan Allah itu Maha Luas
Pemberian-Nya dan Maha
Mengetahui. Al-Baqarah: 247
Juga selama periode Nabi
Muhammad, orang terkemuka
pada masa itu dengan berapi-
api menentang beliau (Az-
Zukhruf: 37). Sikap
perlawanan mereka, tidak
salah lagi, dihasilkan dari
kebiasaan mereka menilai
orang berdasarkan
kesejahteraan, harta, dan
nama baik. Mereka baru akan
patuh apabila utusan yang
dikirim adalah orang
terkemuka dan kaya. Namun
mematuhi seseorang hanya
karena dia dipilih oleh Allah
saja, bagi mereka sangat sulit
karena mereka sombong. Hal
yang sama terjadi pada Nabi
Shaleh:
Kata mereka: "Apakah kita
akan mengikuti seorang
manusia biasa dari kalangan
kita sendiri. Jika demikian kita
ini benar-benar dalam
kesesatan, gila macam kuda
liar?" Apakah terhadap orang
biasa di antara kita itukah
wahyu itu diturunkan? Padalah
dia seorang pendusta lagi
sombong. Kelak mereka akan
tahu siapa sebenarnya yang
bohong dan sombong itu. Al-
Qamar: 24-26
Dalam memahami betapa
sombongnya orang yang
tersesat, Surat Al-Mudatsir
menerangkan kepada kita
secara jelas. Surat itu
menerangkan tentang
seseorang yang diberi banyak
anugrah oleh Allah, yang
mendengar dan memahami
ayat Allah tapi juga tidak
mematuhi perintah Allah
hanya karena kesombongan
belaka. Untuk itu dia pantas
dihukum dengan cara dibuang
ke neraka:
Biarlah Aku sendiri yang
bertindak atas orang yang
telah Kuciptakan
"sebatangkara" Ayat ini dan
beberapa ayat berikutnya
diturunkan sehubungan
dengan tingkah polah seorang
pimpinan kafir Quraisy, yang
bernama Walid bin Mughirah.
Dia dilahirkan sebatangkara
lagi papa. Lalu ia menjadi
kaya-raya, serta dapat pula
kekuasaan dengan menduduki
kursi pimpinan dalam
masyarakat kafir Quraisy. Dan
telah Kuberikan kepadanya
harta benda yang melimpah
ruah; dan anak-anak yang
selalu mendampinginya. Dan
aku lapangkan baginya rezeki
dan kekuasaan selapang-
lapangnya. Lalu ia ingin sekali
supaya harta benda dan
kekuasaan itu Aku tambah
lagi. Sekali-kali tidak akan
Kutambah! Karena dia sangat
menentang ayat-ayat kami.
Akan Kutimpakan kepadanya
siksaan yang tidak
tertanggungkan. Dia telah
memikirkan rencana
penolakan Al-Qur'an semasak-
masaknya, dan menetapkan
tindak pelaksanaannya. Maka
terkutuklah dia!
Bagaimanapun "cara" yang
diperbuatnya. Sekali lagi
terkutuklah dia!
Bagaimanapun "lampah" yang
dilakukannya. Lalu ia berpikir
tentang Al-Qur'an berkali-kali.
Lalu di bermuka asam dan
memberengut. Sesudah itu dia
berpaling terus pergi dengan
rasa penuh keangkuhan. Lalu
dia berkata: "Al-Qur'an ini
adalah sihir orang lain yang
diambil alih oleh Muhammad".
Dan tidak lain, hanyalah
perkataan manusia belaka.
Aku akan memasukkannya ke
dalam neraka Saqar. Sampai
dimana pengetahuanmu
tentang neraka Saqar itu?
Neraka Saqar itu, tidak
menyisakan daging, dan tidak
pula membiarkan tinggal
tulang-tulang. Pembakar kulit
manusia. Al-Mudatsir: 11-29
Pada ayat lain keadaan orang
sombong di neraka
digambarkan sebagai berikut:
Diperintahkan kepada penjaga
neraka: "Tangkaplah orang
yang berdosa itu dan seretlah
ke tengah-tengah neraka!".
"Kemudian tuangkanlah ke
atas ubun-ubunnya air
mendidih tadi sebagai siksaan.
"Rasakanlah! Karena engkau
pernah mengatakan bahwa
engkau orang yang perkasa
dan mulia Ucapan ini
dilontarkan sebagai ejekan
dari Nabi Muhammad
terhadap lawannya Abu Jahal,
ketika dibunuh pada masa
Perang Badar. Demikian Al
Umawi dalam beberapa kisah
pertempurannya yang
diutarakan oleh 'Ikrimah.
Siksaan ini adalah siksaan
yang waktu di dunia dahulu
engkau sangsikan. Ad-Dukhan:
47-50
Manusia hanyalah hamba
Allah. Sadarilah keadaan diri
sebelum Allah menyadarkan.
Hendaknya seseorang
menyadari bahwa dia tidak
memiliki apapun karena
semuanya adalah anugrah
Allah. Karenanya dia akan
menemukan pertolongan
sejati dengan berterima kasih
kepada Allah. Jika dia mulai
menampakkan kesombongan
atas anugrah yang
diterimanya, dia akan segera
kehilangan kenikmatan yang
diperoleh dari anugrah itu.
Allah membimbing orang yang
menyadari bahwa dia hanya
seorang hamba. Namun jika
manusia bertindak sebaliknya,
dia akan mendapat
kemurkaan tuhannya
sebagaimana yang diceritakan
pada ayat di bawah ini:
Al-Masih sendiri sekali-kali
tidak merasa rendah menjadi
hamba Allah begitu juga
malaikat-malaikat yang
terdekat dengan Allah Yaitu di
antaranya ialah Malaikat Jibril
(Ruhul Kudus) yang membawa
perintah penciptaan Al-Masih
An-Nisa: 172.
Adapun orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri
terhadapnya, mereka itulah
penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya. Al-A'raf:
36
Adapun orang yang tidak
menyombongkan diri lagi
bersikap lunak, adalah hamba
Allah sejati dan akan dihadiahi
dengan surga:
Itu kampung akhirat yang
pernah kau dengar beritanya.
Kami jadikan kenikmatannya
bagi orang-orang yang tidak
mau berlagak sombong dan
tidak mau merusak di
permukaan bumi. Dan syurga,
adalah akibat yang baik bagi
orang-orang yang takwa. Al-
Qasas: 83

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar